Catatan dan inspirasi dari perjalanan dan petualangan hidup. Informasi paling lengkap tentang wisata. Semoga bisa bermanfaat. Jelajahi negeri, Cintai negeri, kenali Budaya dan Wisatanya.

Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Oktober 2010

Bromo & Suku Tengger

Posted by azis fals On 04.30 1 comment

Bromo & Suku Tengger
Gunung Bromo
Gunung Bromo adalah termasuk kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, yaitu dalam wilayah empat kabupaten antara lain, Probolinggo, Pasuruan, Lumajang dan Malang. Kawasan ini adalah andalan objek wisata Jawa Timur yang sudah sangat terkenal sampai manca negara.

Untuk mencapai kawah Bromo ada dua jalur yang lebih mudah daripada yang lain, yaitu melalui Cemoro Kandang - Pasuruan, terus ke Tosari - Wonokitri, lanjut bisa ke Penanjakan atau langsung ke lautan pasir dan menuju puncak Bromo. Jalur yang kedua adalah dari arah Probolinggo lewat Sukopuro terus ke Ngadisari kemudian naik ke Cemoro Lawang dan langsung ke kawah Bromo.

Kawasan Gunung Bromo dengan suhu 5 - 14 derajat celcius, dengan ketinggian kurang lebih 1500 dpl adalah gugusan gunung - gunung seperti Gunung Batok, Gunung Kursi dan Gunung Penanjakan. Bila kita mengenal Gunung Bromo tidak lepas dari budaya, agama dan adat istiadat dari masyarakat Tengger (Wong Tengger).


Wong Tengger
Wong Tengger adalah masyarakat atau penduduk yang bertempat tinggal di daerah pegunungan Tengger yaitu termasuk dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru di Jawa Timur.

Menurut Legenda Jawa, ketika runtuhnya kerajaan Majapahit tahun 1520-an para pendeta dan para bangsawan sebagian berlari ke Timur mengungsi ke Bali dan sebagian lain tinggal di pegunungan Tengger ini bercampur dengan penduduk asli daerah tersebut, yang akhirnya manjadi leluhur orang Tengger masa kini.

Mayoritas masyarakat Tengger beragama Hindu Tengger yang notabene secara keturunan adat adalah dari Kerajaan Majapahit yang kemudian berkembang hingga saaat ini terjadi beberapa kegiatan adat yang masih dilakukan seperti Kasodo (kashadha), Entas-entas, Pemilihan kepala adat (Dukun) dan sebagainya.

Kashadha, adalah perayaan terbesar budaya Tengger yaitu masyarakat dan para pendatang berduyun-duyun ke lereng sampai ke bibir kawah Bromo untuk mempersembahkan korban dan sesaji berupa makanan, hasil bumi (dengan ongkek) ataupun hewan ternak. Agar dengan adanya korban itu selalu mendapat ketentraman, kedamaian dan jatuh dari mara bahaya.

Entas-entas adalah upacara 3 hari dari penyucian (Palukaton) dan membantu roh orang mati menemukan jalan Nirwana. Roh yang dilambangkan dengan patung kecil (Petra) yang terbuat dari dedaunan dan bunga, puncak acara tersebut ditandai dengan didudukkannya anggota keluarga dekat yang ditutupi kain putih memegang Petra tersebut, yang akhirnya pembakaran potongan rambut anggota keluarganya dan Petra-Petra diteruskan dengan melintaskan seekor unggas yang akhirnya dilepas.

Ada lagi perayaan Karo (kedua) yang dipahami juga perayaan suci yang saling berpasangan merupakan merupakan sumber kehidupan seperti bumi langit, tanah air, laki perempuan siang malam dan sebagainya. Nuansa pelaksanaannya mengarah berdasarkan dongeng dan kejawen.

Karena dalam kebersamaan orang Tengger adalah dipimpin oleh seorang dukun, yaitu seorang tetua adat (Ahli Adat) yang harus mewakili dan memimpin pada setiap upacara dan perayaan maka haruslah seorang tokoh masyarakat yang mempunyai ilmu dan wawasan lebih. Apalagi harus membaca naskah-naskah lontar sebagai bacaan dan do'a warisan leluhur. Upacara besar juga terjadi apabila ada pengukuhan dukun dalam penggantian dukun karena mangkat.

Kegiatan perekonomian paling banyak dilakukan adalah bertani da bercocok tanam yang kebanyakan adalah memproduksi sayur mayur. Seiring dengan perkembangan jaman dan teknologi komunikasi, masyarakat Tengger sudah bisa mengikuti perkembangan beberapa hal tersebut, tetapi secara adat kebudayaan dan keyakinan yang dijalankan masih tetap bertahan hingga sekarang, demi kelestarian dan kebanggaan kita semua Bangsa Indonesia.

Demikian sedikit cerita mengenai Wong tengger, yang saya kutip dari Kaos yang saya beli dari Bromo. Kalau ingin lebih jelas datang saja kesana, sambil melihat pemandangan yang indah.

Idul Fitri 1431 H

Posted by azis fals On 04.27 No comments

Idul Fitri 1431 H

Minggu, 19 September 2010

LIPUTAN MUDIK SURABAYA – JEPARA 2010

Posted by azis fals On 06.04 No comments

LIPUTAN MUDIK SURABAYA – JEPARA 2010
Jam sudah menunjukkan pukul 17.30 WIB, tapi adzan magrib masih belum berkumandang. Mungkin Saya harus lebih sabar lagi. Dan 10 menit berlalu akhirnya Adzan magrib yang di tunggu-tunggu pun berkumandang. Waktunya buka puasa.

Alkhamdulillah, hari itu (5 September 2010) puasa saya dibulan ramadhan tahun ini sudah 26 kali, tanpa ada yang bolong. Setelah selesai bersantap ria, saya bergegas mengambil wudhu dan sholat. Setelah wirid dan sebagainya, saya mengemasi barang-barang yang memang sudah Saya siapkan.

Jam tangan saya sudah bunyi “tit tit”, sebagai tanda kalau menunjukkan pukul 18.00 WIB, dan Saya pun bergegas manyalakan sepeda motor. (Alkhamdulillah Bapakq mau mengantar sampai JMP (Jembatan Merah Plasa). Makasih Pak). “Kupacu sepeda motor ku, jarum jam tak mau menunggu, maklum rindu”, begitu sepenggal lirik Lagu Iwan Fals yang pas mewakili suasana hati Saya saat itu. Meskipun sebelumnya saya masih ragu untuk mengambil cuti sepanjang itu, akhirnya dalam hati kecilku berkata, “masa tidak dimaklumi sih, Saya kan aslinya jauh, ga kayak teman2 yang hanya Surabaya malang rumahnya.

Sesampai di JMP saya langsung ke pertigaan tempat para calon penumpang bus kota menunggu. Dan selang 10 menit atau tepat pukul 18.30 WIB bus kota pun akhirya datang.
Entah kapan terakhir naik bus kota, perasaan sebelumya ongkosnya Rp. 2.500, tapi malam itu kok jadi Rp. 4.000,, ?? ya sudah lah, yang penting sampai terminal bungur dengan selamat. Sempat kecewa saat bus lewat kota dan “ngetem” untuk menunggu penumpang lama banget di Jl. Diponegoro. Tapi untunglah 20 menit kemudian bus melanjutkan perjalanannya.

Tepat pukul 19.30 WIB akhirnya bus kota yang Saya tumpangi sampai juga ke terminal bungurrasih atau purabaya. Memang secara keseluruhan kondisi jalan raya Jembatan Merah sampai Terminal Bungurrasih relatif belum padat atau perjalanannya masih lancar. Mungkin sebagaian umat muslim masih menjalankan ibadah sholat tarawih.



Masuk terminal, bayar retribusi Rp. 200, dan harus menunggu 1 jam lagi. Karena bus jurusan jepara baru stanby pukul 20.30 WIB. Sambil menunggu Saya sempat mengambil foto suasana saat di terminal. Terminal masih belum ramai. Mungkin karena lebaran masih 5 hari lagi. Karena haus, saya pun beli air mineral botol, hm.. Rp. 3000, maklumlah Terminal gitu loh, jadi agak mahal sedikit. Ada sedikit tips saat membeli air mineral botol, yaitu buka label merek yang melingkari botol. Karena ada modus menyuntikkan zat kimia (yang membuat orang jadi tertidur pulas, atau bahkan pingsan) tepat dibelakang merek / lebel tersebut. Setelah disuntikkan botol tersebut diberi isolasi double tip, jadi ga kelihatan bekas suntikan dan tidak bocor pula.


(Suasana terminal Bungur, masih belum ramai)

Pukul 20.15 WIB saya menanyakan kepada petugas, “Pak, Bus jurusan jepara jam berapa? Dan dijawab, 20.30 WIB”. Disamping saya juga ada bule atau turis yang juga menanyakan bus jurusan jepara. Dalam hati Saya berpikir “mau kemana ya turis turis itu,? Apa mau ke karimun jawa?” maklumlah karimun jawa memang jadi idola para pecinta wisata laut. Dengan laut yang masih bersih alami, dan merupakan salah satu dari tujuh tempat menyelam favorit di Indonesia.

Pukul 20.30 WIB, bus yang ditunggu-tunggu pun akhirnya datang. Dan whussss,,, ternyata banyak orang yang menantinya. Walhasil harus berebut masuk untuk mendapatkan tempat duduk. Maklumlah cuma ada 1 bus patas jurusan Jepara. Lainnya bus ekonomi biasa. Alkahmdulillah dapat tempat duduk no 3 dari depan. Silih berganti pengamen dan pedagang asongan menambah ramainya dalam bus. Selang 15 menit kemudian bus pun berangkat meskipun jadwal keberangkatannya jam 21.00 WIB. Maklumlah sudah penuh.

Bismillah, semoga sampai tujuan dengan selamat. Selang 30 menit, bus memasuki TOL jurusan gresik dan kondektur pun mulai narik ongkos. Dan sempat terkejut saat kondektur bilang ongkosnya Rp. 80.000,- naik Rp. 20.000 dari ongkos biasanya (Rp. 60.000). padahal lebaran masih 5 hari lagi. Tapi tarif sudah dipatok harga lebaran. Ya sudahlah, semoga perjalannya sampai tujuan dengan aman dan nyaman.

Memasuki kota Lamongan hujan rintik-rintik menghiasi perjalanan mudik Saya. Hujan reda saat memasuki kota Tuban. Alkhamdulillah perjalanan masih lancar. Biar perjalanan tidak jenuh, Saya isi dengan membuka facebook (online-online,,, begitu nyanyian lagu Saykoji).


(Bus Patas Jaya Utama, saat berhenti di Warung Makan Tuban)

Sempat ketiduran sebantar dan berhentilah di sebuah warung makan yang emang sudah jadi satu paket perjalanan. Makanya harganya sedikit mahal. Maklumlah, PATAS. Nasi Rawon dan segelas teh hangat cukuplah untuk mengganjal perut & menghangatkan badan. Setelah selesai makan, saya langsung menuju musholla di samping rumah makan. Karena Saya kan belum sholat isya.

“Bus berangkat, Bus berangkat”, kata kondektur dan sopir mengajak penumpang segera memasuki bus dan duduk ditempatnya masing-masing.

Dan selang 30 menit berlalu, mata ini sudah ga mau diajak kompromi lagi. Dan ZZZ…….zzzzzzzz..ZZZZZZ saya pun tidur sampai memasuki kota Kudus. Perjalanan malam ini tergolong lancar, karena sampai kudus masih jam 02.00 WIB. Bus masih berhenti untuk mengisi bahan bakar. Dan selang beberapa menit bus malanjutkan perjalanannya. Ngantuk masih terasa dan saya pun tidur lagi. Bangun –bangun dan ternyata bus sudah memasuki kota jepara. Tepatnya di alun-alun kota jepara. Aduh,,, seharusnya kan Saya turun di pecangaan. Lumayan jauh selisihnya. Tepat jam 03.30 akhirnya bus sudah memasuki terminal jepara. Alkhamdulillah nyampai juga di kota tanah kelahiran.


(Terminal Jepara)

Sampai di terminal hanya tersisa 5 orang penumpang yang terakhir turun. Saya, seorang bapak, dan 3 orang bule/ turis. Sambil nunggu jemputan tiba – tiba salah seorang dari bule itu bertanya, where is toilet? I don’t know,, q jawab seadanya. Setelah beberapa menit si bule tersebut kembali dan bertanya “do you can speak English? Yes I can, but little-litle I can” hehehe,, terus tanya lagi “ke mana arah ke pelabuhan? Saya jawab kesana. Bagaimana cara sampai disana? Saya jawab naik becak. Dia ternyata ga tahu becak,, karena Saya juga lupa bahasa inggrisnya becak. Hehehe. Berapa ongkosnya? Saya jawab Rp. 10.000. Saya jadi gentian bertanya, Apakah anda ingin ke karimun jawa? Yes. (tentunya perbincangan kami tadi dengan bahasa inggris). Ternyata dari hasil perbincangan dari si bule ternyata dia ingin ke pulau karimun jawa. Dan ternyata si bule inilah yang Saya temui di terminal bungurasih Surabaya tadi. Dan ternyata dugaanku benar tadi malam. Tiga bule ini ingin ke karimun jawa.


(Alat Tenun, di rumah paman)


(Hasil keringat sendiri)

Setelah menunggu lama, Pamanku akhirnya datang menjemput. Dan 15 menit kemudian, akhirnya sampai rumah. Dan waktu sahur pun masih ada. Alkhamdulillah bisa menikmati sahur bersama keluarga. Dua hari pertama di Jepara (6-7 September 2010) Saya masih belum bisa jalan-jalan. Karena hari itu masih ada sedikit pekerjaan (pelelangan online). Akhirnya Baru hari ke tiga bisa jalan-jalan, menikmati indahnya kota jepara.


(Gerbang Kota Jepara Bumi Kartini)


(Tugu Kartini)




Setelah muter-muter di tengah kota (alun-alun kota, museum, dan sebagainya) akhirnya saya ke dermaga pelabuhan jepara untuk melihat jadwal keberangkatan KMP Muria ke pulau karimun jawa. Maklumlah saya memang berencana ke sana setelah lebaran. Semoga lancar bisa sampai sana. Pulau yang sering Saya impikan.


(Jadwal KMP Muria, ke Pulau Karimun Jawa)





(Suasana Di Dermaga Pelabuhan Jepara. Kalau tidak ada kapal memang di buat warga untuk memancing. Karena Lautnya masih bersih dan ikan-ikan yang beragam)






(Karena Lautnya yang masih bersih, main-main dulu sama Ubur-ubur, hehe)


(Dermaga Pelabuha Jepara, lokasinya disebelah area wisata pantai kartini)

Jalan – jalan terhenti saat hujan mulai mengguyur kota jepara. Dan saya dan teman saya yang saya ajak jalan-jalan, akhirnya berteduh di SMKN 3 Jepara. Ya, temanku memang bekerja di tempat itu. Sorenya masih sempat foto-foto di tugu RA. Kartini dan di depan Kantor PLN UP Jepara. 1,5 jam menjelang buka puasa, akhirnya kami (saya dan teman saya itu) kembali pulang kerumah masing.


(Unit Impian)



(PLN UPJ Jepara APJ Kudus)

Religi Kota Kudus

Posted by azis fals On 06.02 No comments

Religi Kota Kudus

Upacara Sekaten 2010

Posted by azis fals On 06.00 No comments

Upacara Sekaten 2010

Selasa, 10 Agustus 2010

Yogyakarta

Posted by azis fals On 12.53 No comments



Yogyakarta

Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgi saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama suasana Jogja
Mengutip sepenggal lirik dari syair lagu Yogyakarta (Kla Project).



Siapa yang tidak kenal dengan Jogja atau Daerah Istimewa Yogyakarta. Kota dengan keramahan senyum dan seribu pesona. Kota masih sangat kental dengan budaya Jawanya. Seni dan budaya merupakan bagian tak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat Yogyakarta ditengah perkembangan dunia yang begitu cepat. Kota yang memiliki banyak sejarah dan kenangan. Kota yang menjajakan sajian khas berselera. Itulah Jogja, dengan julukan kota Gudeg dan Kota Pelajar.

Mungkin inilah alasan mengapa Saya selalu merindukan Yogyakarta. Perjalanan dari Surabaya ke Yogyakarta membutuhkan waktu sekitar 7 jam. Dari Terminal Bungurasih Surabaya kita dapat naik bus EKA jurusan Magelang dan turun di Yogyakarta dengan ongkos kurang lebih Rp. 60.000,-


Tugu Jogja





(karena tugu terletak pada tengah-tengah perempatan jalan besar, maka hati-hati kalau mau foto-foto)



(Amati sosok penampakan di sebelah kanan dan amati cewek di sebelah kiri tugu)

Sesampai di Jogja, perjalanan saya mulai dari Tugu Yogyakarta. Tugu Yogyakarta adalah sebuah tugu atau menara yang sering dipakai sebagai simbol/lambang dari kota Yogyakarta. Tugu ini dibangun oleh Hamengkubuwana I, pendiri kraton Yogyakarta.





Tugu yang terletak di perempatan Jl Jenderal Sudirman dan Jl. Pangeran Mangkubumi ini, mempunyai nilai simbolis dan merupakan garis yang bersifat magis menghubungkan laut selatan, kraton Jogja dan gunung Merapi. Pada saat melakukan meditasi, konon Sultan Yogyakarta pada waktu itu menggunakan tugu ini sebagai patokan arah menghadap puncak gunung Merapi.



(Papan peringatan untuk tidak naik atau menginjak tugu jogja)

Tugu ini sekarang merupakan salah satu objek pariwisata Yogya, dan sering dikenal dengan istilah “tugu pal putih” (pal juga berarti tugu), karena warna cat yang digunakan sejak dulu adalah warna putih. Tugu pal ini berbentuk bulat panjang dengan bola kecil dan ujung yang runcing di bagian atasnya. Dari kraton Yogyakarta kalau kita melihat ke arah utara, maka kita akan menemukan bahwa Jalan Malioboro, Jl Mangkubumi, tugu ini, dan Jalan Monument Yogya Kembali akan membentuk satu garis lurus persis dengan arah ke puncak gunung Merapi.

Jalan Malioboro



Setelah foto-foto di tugu yogyakarta perjalanan dilanjutkan ke Jl. Malioboro. Rasanya ada yang kurang kalo ke jogja tapi tidak mampir ke Jalan Malioboro. Jalan Malioboro adalah nama salah satu jalan dari tiga jalan di Kota Yogyakarta yang membentang dari Tugu Yogyakarta hingga ke perempatan Kantor Pos Yogyakarta. Secara keseluruhan terdiri dari Jalan Pangeran Mangkubumi, Jalan Malioboro dan Jalan Jend. A. Yani. Jalan ini merupakan poros Garis Imajiner Kraton Yogyakarta.



(Pilih ke arah Malioboro atau ke "Pasar kembang")



(Akhirnya saya memilih ke Malioboro saja,, Lumayan dapat colongan sepeda,, peace...)

Jalan Malioboro sangat terkenal dengan para pedagang kaki lima yang menjajakan kerajinan khas jogja dan warung-warung lesehan di malam hari yang menjual makanan gudeg khas jogja serta terkenal sebagai tempat berkumpulnya para Seniman-seniman-seniman yang sering mengekpresikan kemampuan mereka seperti bermain musik, melukis, hapening art, pantomim dan lain-lain disepanjang jalan ini.



Terdapat beberapa obyek bersejarah di kawasan tiga jalan malioboro antara lain Tugu Yogyakarta, Stasiun Tugu, Gedung Agung, Pasar Beringharjo, Benteng Vredeburg dan Monumen Serangan Oemoem 1 Maret dan diseberangnya terdapat bangunan yang dulu dijadkan istana negara saat itu. Jadi sudah sejalan kita bisa ke tempat-tempat tersebut, lanjut ke Keraton Yogyakarta dan alun-alun utara yogyakarta.


DaGaDu



Jangan lupa mampir dan beli kaos DaGaDu di Mall Malioboro ya, karena kaos DaGaDu yang asli hanya ada Mall Malioboro lantai dasar. Harganya sekitar Rp. 60.000,-.

Benteng Vredeburg




Foto Benteng Vredeburg pada saat siang dan malam hari.




Yogyakarta sebagai ibukota Republik Indonesia



Ini dia istana negara yang ada di Yogyakarta (saat itu). Karena situasi keamanan ibukota Jakarta (Batavia saat itu) yang makin memburuk, maka pada tanggal 4 Januari 1946, Soekarno dan Hatta dengan menggunakan kereta api, pindah ke Yogyakarta sekaligus pula memindahkan ibukota. Meninggalkan Sjahrir dan kelompok yang pro-negosiasi dengan Belanda di Jakarta.



Keraton Yogyakarta

Keraton Yogyakarta yang terletak di tengah kota Yogyakarta ini memiliki beberapa museum, yaitu Museum Lukisan, Museum Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Museum Kereta, dan Museum Batik. Di samping itu, hampir seluruh bagian kraton digunakan sebagai tempat penyimpanan benda-benda budaya bernilai, termasuk replikanya. Di kompleks Pagelaran, misalnya, diperagakan berbagai pakaian prajurit dan pakaian adat keluarga keraton. Museum ini dibuka untuk umum setiap hari kecuali pada saat terdapat upacara. Museum buka mulai jam 08.30 hingga 14.00 wib, kecuali hari Jumat yang buka hingga pukul 13.00 wib. Selain benda-benda budaya dan arsitektur, pengunjung juga dapat melihat pertunjukan seperti macapat, kerawitan, wayang kulit, serta wayang orang, yang dipentaskan di bangsal Sri Manganti, sekitar pukul 10.00-12.00.

Alun - Alun Selatan Jogja



Setelah dari keraton dan alun-alun utara Yogyakarta, lanjut ke alun-alun selatan. Mitos atau kepercayaannya sih kalau bisa melewati 2 buah pohon beringin besar yang ada di tengah-tengah alun-alun dipercaya hatinya bersih, atau apalah itu. Yang penting aku sudah coba. Soal hasilnya, hanya Tuhan yang tahu. Hehehehe.









(Gambarnya agak kabur nich,, maklum kameranya apa adanya,, hehehehe)

Trans Jogja

Tidak hanya di Jakarta, pemerintah DIY juga telah mengoperasikan bis TransJogja sebagai usaha untuk membuat transportasi di kota ini nyaman, murah dan andal. Cukup dengan Rp. 3.000,- kita sudah bisa keliling Yogyakarta. Tapi dengan catatan tidak turun dari halte. Kalo mau turun dan jalan-jalan ya harus bayar lagi. Hehehehehe.



Soal urusan perut selama di Yogyakarta, kita tidak perlu khawatir. Karena disana banyak angkringan. Karena harganya sangat murah, cukup Rp. 2.000,- sampai Rp. 5.000,- anda sudah bisa kenyang. Hehehehe. Apa itu angkringan?? Mengutip dari Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, Angkringan (berasal dari bahasa Jawa ' Angkring ' yang berarti duduk santai) adalah sebuah gerobag dorong yang menjual berbagai macam makanan dan minuman yang biasa terdapat di setiap pinggir ruas jalan di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Di Sala dikenal sebagai warung hik ("hidangan istimewa a la kampung").

Makanan yang dijual meliputi nasi kucing, gorengan, sate usus (ayam), sate telor puyuh, kripik dan lain-lain. Minuman yang dijualpun beraneka macam seperti teh, jeruk, kopi, tape, wedang jahe dan susu. Semua dijual dengan harga yang sangat terjangkau.
Meski harganya murah, namun konsumen warung ini sangat bervariasi. Mulai dari tukang becak, tukang bangunan, pegawai kantor, mahasiswa, seniman, bahkan hingga pejabat dan eksekutif. Antar pembeli dan penjual sering terlihat mengobrol dengan santai dalam suasana penuh kekeluargaan.



"Ajakan Gubernur Yogyakarta untuk hemat listrik "

Sumber referensi : Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.
Terima kasih buat :
Ki Joko Nur “Bagas” Astanto (Mas Tatan) dan keluarga untuk akomodasinya.
Mas Andreas SW.


Cerita selanjutnya ke Monumen Jogja kembali.

Selasa, 20 Juli 2010

Kerajinan Ukir Jepara

Posted by azis fals On 18.17 2 comments



Jepara dikenal sebagai kota ukir, karena terdapat sentra kerajinan ukiran kayu ketenarannya hingga ke luar negeri. Kerajinan mebel dan ukir ini tersebar merata hampir di seluruh kecamatan dengan keahlian masing-masing. Namun sentra perdagangannya terlekat di wilayah Ngabul, Senenan, Tahunan, Pekeng, Kalongan dan Pemuda. Selain itu, Jepara merupakan kota kelahiran pahlawan wanita Indonesia R.A. Kartini.



Industri Mebel Ukir Jepara. Industri ini tersebar luas di hampir semua kecamatan Jepara, kecuali Kecamatan Karimun Jawa

Kerajinan Patung & Ukiran. Sentra Kerajinan ini terdapat di desa Mulyoharjo Jepara. Di sana terdapat lebih dari 90 pengusaha di bidang kerajinan Patung dan Ukiran Kerajinan Relief. Sentra Kerajinan ini terdapat di Desa Senenan, dekat Rumah Sakit Kartini Senenan Jepara.



Industri Mebel dan Kerajinan merupakan industri andalan kabupaten Jepara. Industri tersebut telah menjadi tulang punggung perekonomian Jepara. pariwisata Jepara memiliki banyak objek menarik yang dapat dikembangkan lebih baik lagi, diantaranya Pantai Kartini, Bandengan dan karimun jawa. karena keterbatasan APBD yang ada, maka pengembangan pun belum optimal. selain itu, yang saat ini menarik adalah wisata budaya dan wisata industri. industri mebel dan ukir jepara yang berbasis HOME INDUSTRI dan merupakan kerajinan tangan dapat pula dikembangkan menjadi wisata industri sekaligus wisata belanja produk kerajinan jepara.



Kemampuan masyarakat Jepara di bidang ukir kayu juga diwarnai dengan legenda . Dikisahkan, pada jaman dahulu ada seorang seniman bernama Ki Sungging Adi Luwih yang tinggal di suatu kerajaan. Ketenaran seniman ini didengar oleh sang raja yang kemudian memesan gambar permaisuri. Singkat cerita, KiSungging berhasil menyelesaikan pesanan dengan baik. Namun ketika ia akan menambahkan warna hitam pada rambut, terpeciklah tinta hitam dibagian pangkal paha gambar sang permaisuri sehingga nampak seperti tahi lalat. Gambar ini kemudian diserahkan kepada raja yang sangat kagum terhadap hasil karya Ki Sungging.



Namun raja juga curiga karena ia melihat ada tahi lalat dipangkal paha. Raja menduga Ki Sungging talah melihat permaisuri telanjang. Oleh karena itu raja berniat menghukum Ki Sungging dengan membuat patung di udara dengan naik layang-layang. Pada waktu yang telah ditentukan ki Sungging naik layang-layang dengan membawa pelengkapan pahat untuk membuat patung permaisuri.



Namun karena angina bertiup sangat kencang, patung setengah jadi itu akhirnya terbawa angin dan jatuh di pulau Bali. Benda ini akhirnya ditemukan oleh masyarakat Bali, sehingga masyarakat setempat sekarang dikenal sebagai ahli membuat patung. Sedangkan peralatan memahat jatuh di belakang gunung dan konon dari kawasan inilah ukir Jepara mulai berkembang.



Terlepas dari cerita legenda maupun sejarahnya, seni ukir Jepara kini telah dapat berkembang dan bahkan merupakan salah satu bagian dari “nafas kehidupan dan denyut nadi perekonomian “ masyarakat Jepara.



Gambar – gambar diatas Saya ambil saat jalan – jalan di Jepara tepatnya di daerah Tahunan. Karena disana merupakan sentra pertokoan ukir – ukiran baik itu souvenir, kaligrafi, maupun barang – barang keperluan rumah tangga seperti lemari, meja dll.


Referensi :
http://jeparakab.go.id/
http://id.wikipedia.org/